Sang Tangan Besi Kohati

0

Onesulsel.id — Perempuan yang berwajah bulat, ramah dan bermata sipit itu adalah kakak ‘kandung’ saya. Bukan hanya sekadar kakak, dia juga menjadi guru dan panutan, di dalamnya selalu memancarkan energi aktif begerak meski dalam diam sekalipun. Dia adalah Samsudiarti.

Kami dilahirkan di ‘rahim’ dan ‘rumah’ yang satu, HMI. Kebetulan kami satu kampung dan satu kampus, kebetulan-kebetulan itu yang menjadikan kami semakin akrab. Tidak terlalu banyak mahasiswa apalagi mahasiswi yang ikut nimbrung untuk ber-HMI dalam kondisi kampus kami yang sangat ekstraktif.


HMI menjadi organisasi ‘terlarang’ yang ruang geraknya dipasung di kampus tersebut. Olehnya itu pelbagai macam tantangan yang dihadapi mahasiswa yang nekad dan kekeuh untuk tetap ber-HMI menjadi cerita pembeda. Namun bukankah pelaut ulung tidak akan lahir di laut yang tenang? Melainkan ia akan dilahirkan dari samudera yang penuh terpaan badai dan gelombang? Kemudian yang terkahirlah yang menjadi pilihannya.

Baca Juga  Klop dengan PKS, "Anto" Kembalikan Formulir Bakal Calon Wali Kota Makassar

Tidak seperti mahasiswa pada umumnya, dia tidak mau terkungkung hanya dalam ruang akademik yang sesak dan kaku. Menjadi aktivis HMI membuatnya berinteraksi dalam ruang yang lebih luas, ikut berdiskusi dalam forum-forum intelektual bahkan melakukan protes di jalan juga ditempuh jika itu diperlukan.

Maka tidak berlebihan rasanya jika saya menggelarinya si ‘perempuan besi’, sama dengan gelar yang disematkan kepada Margaret Thatcher di Inggris.

Ketekunan, kedisiplinan berikut kecerdasan yang dimilikinya mengantarkannya bercokol menjadi Ketua Kohati HMI Cabang Gowa Raya (2011-2012). Maka sebagai seorang adik yang sedikit banyak tahu tentangnya, tidak terlalu kaget dengan amanah tersebut.

Baca Juga  Daftar Ke PAN Makassar, Anto : Saya Kembali Kerumah Sendiri

Jabatan itu tidak didapatkan secara instan melainkan membutuhkan proses yang sangat panjang yang membuatnya semakin matang menjadi HMI-Wati. Maka diktum yang terkenal ‘hasil tak pernah mengkhianati proses’ juga tercermin dalam perjalananan menjadi kader HMI yang sesungguhnya dalam diri seorang Samsudiarti.

Karirnya di HMI semakin cemerlang seiring dengan terdaftarnya sebagai pengurus di Pengurus Besar Kohati PB HMI (2016-2018), sebelumnya menjadi pengurus Badko HMI Sulselbar (2013-2015). Maka tidak etis rasanya bertanya tentang sumbangsih dan dedikasinya ke HMI.

Hampir seluruh waktu, tenaga dan pikirannya selama menjadi mahasiswa dihibahkan untuk mengabdi di HMI, meskipun namanya juga terdaftar di beberapa organisasi lainnya. Kumulatif pengalaman selama ber-HMI menjadi modal yang mempunyai pengaruh besar terhadap kapasitas dan kapabilitasnya.

Baca Juga  Daftar Ke PAN Makassar, Anto : Saya Kembali Kerumah Sendiri

Ilmu yang mumpuni berikut aktualisasi pengamalan, sesungguhnya telah terpatri trilogi HMI; iman, ilmu, amal.  Meskipun bukan kapasitas saya mengomentari perihal keimanannya. Bukankah keimanan adalah urusan personal antara hamba dengan Tuhan yang tidak perlu untuk diumbar ?Singkatnya Samsudiarti adalah HMI dan HMI adalah Samsudiarti.

Mendengar dia mempunyai niatan suci nun luhur untuk mengambil bagian dalam perjalanan sejarah HMI lebih dalam, tentu ini merupakan kabar yang sangat menggembirakan. Di tengah krisis kepemimpinan dalam tubuh Kohati, bak ada oase sejuk di gersang padang pasir. Iya, Kohati membutuhkan figur seperti dirinya.

Berpengalaman dan berintegritas cukup mengantarkan Kohati dapat bersinergi dengan HMI. Menata kembali puing-puing kejayaan HMI sebagai organisasi kemahasiswaan tertua di republik ini, yang telah mencetak banyak tokoh nasional yang berkontribusi terhadap kemajuan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Baca Juga  Klop dengan PKS, "Anto" Kembalikan Formulir Bakal Calon Wali Kota Makassar

Kehadiran Samsudiarti bukanlah menjadi juru selamat yang mampu memberikan mukjuizat untuk perubahan HMI kedepannya, tetapi ia mampu memberikan prosepek kebahagian HMI dan kejayaan kohati. Semoga.

Penulis : Zaldy Rusnaedy S

Share.

About Author

Leave A Reply

© Copyright OneSulsel 2017