Kisah Anak Pasien yang “Dicovidkan” RS Bhayangkara, Andi Esa Kurang Tidur Pikirkan Jasad Ibunya yang Tak Pernah Ia Lihat Dimasa-masa Terakhir

0

Onesulsel.id, Makassar — 40 hari kepergian ibunda dari Andi Esa, Nurhayani Abrar pasien dengan gejala stroke tapi di Covidkan oleh pihak Rumah Sakit Bhayangkara Kota Makassar pada 9 Juni 2020 lalu.

Hingga saat ini keluarga besar dari almarhum Nurhayani Abrar belum bisa menerima perilaku tim gugus tugas penanganan Covid-19 Sulsel karena memakamkan keluarganya di pekuburan khusus covid di Macanda Kab. Gowa padahal hasil tes swab almarhuma negatif.


Semenjak kepergian Ibundanya, Andi Esa terus bersedih bahkan sulit tidur memikirkan “kejamnya” tim gugus tugas Covid-19 Sulawesi Selatan memberikan status PDP Covid-19 pada saat meninggal dunia padahal ibunya masuk kerumah sakit Bhayangkara hanya stroke ringan saja.

Dihadapan awak media, Rabu (24/06/2020) Andi Esa mengungkapkan kesedihan ditinggalkan Ibundanya untuk selama-lamanya, mengapa tidak, disaat-saat terakhir sakaratul maut hingga kini, ia tak pernah melihat jasad ibunya dikarenakan pihak Rumah Sakit melarang untuk mendekati jenazah ibunya.

Baca Juga  Poltekpar Makassar Berikan Bantuan Beasiswa Berprestasi dan Kurang Mampu Ke Mahasiswanya

” Yang saya sayangkan itu, kenapa Ummi harus diberikan status PDP Covid di RS Bhayangkara? itupun statusnya ditulis tangan saja, padahalkan Ummi masuk ke rumah sakit hanya stroke ringan saja tidak ada sama sekali gejala Covid pas meninggal dia dimakamkan dengan protokol Covid, sampai sekarang juga saya tidak melihat jasad ibu saya padahal ini sudah 40 harinya,” katanya diiringi berlinang air mata.

Ia menjelaskan bahwa saat ibunya meninggal dunia, dirinya kurang tidur lantaran ia memikirkan tim gugus Covid Sulawesi Selatan seperti memfitnah keluarganya padahal ibunya telah dinyatakan negatif tapi tetap saja tidak bisa dipindahkan dipemakaman keluarga di kab. Bulukumba.

” Ini sudah 40 hari Ummi saya meninggal, sampai saat ini kesedihan mendalam masih ada bahkan saya kurang tidur, dan 3 adik saya terus juga bersedih, teganya tim gugus covid 19 Sulsel memfitnah keluarganya dengan memberikan status PDP covid pada Umminya,” kesalnya.

Baca Juga  Dituding Sebagai Kampus Pendemo, Prof Ambo Asse : Oknum Mahasiswa Kampus Lain Jadikan Panggung Orasi di Unismuh !

Sebelumnya diberitakan, Andi Baso Ryadi Mappasulle, warga Kabupaten Gowa Sulawesi Selatan, harus menahan rasa sakit lantaran mendapatkan perlakuan tak adil atas kematian istrinya yang divonis PDP Covid-19 di RS Bhayangkara Makassar.

Istrinya, Nurhayani Abrar (alm) menghembuskan nafas terakhirnya akibat stroke dan pembuluh darah pecah. Berdasarkan hasil pemeriksaan swab, istrinya ternyata negatif Covid-19.

Baso mengisahkan, hasil swab istri tercintanya keluar pada tanggal 22 Mei 2020, 1 minggu setelah istrinya dimakamkan di pekuburan Macanda. Itu pun, kata dia, mesti susah payah untuk mendapatkannya.

Hingga kini, dia beserta keluarganya tetap berharap dapat memindahkan jenazah istrinya ke pekuburan milik keluarga mereka di Bulukumba sebagaimana telah dijanjikan pemerintah.

Share.

About Author

Leave A Reply

© Copyright OneSulsel 2017